Idul Fitri itu… bukan hanya hari kemenangan.
Ia adalah hari keberanian.
Selama Ramadhan, kita begitu mudah menangis di hadapan Allah.
Lisan kita basah dengan istighfar, hati kita berharap diampuni.
Dan benar… Allah Maha Pengampun, selembut apapun dosa kita kepada-Nya, pintu itu selalu terbuka.
Tapi… tidak dengan manusia.
Ada luka yang kita sebabkan—kadang tanpa sadar.
Ada kata yang terucap—tanpa kita ingat, tapi membekas di hati orang lain.
Dan semua itu… tidak selesai hanya dengan sujud panjang di malam hari.
Ia menunggu satu hal: kita datang.
Dalam sirah, Nabi Muhammad—manusia paling mulia, yang dijamin surga—justru memberi teladan yang membuat hati bergetar.
Beliau berdiri di hadapan para sahabat, lalu berkata,
“Siapa di antara kalian yang pernah aku sakiti, baik sengaja maupun tidak, silakan membalasnya sekarang.”
Hening…
Hingga seorang sahabat berdiri, Ukasyah Bin Mihshan
“Wahai Rasulullah, cambuk engkau pernah tanpa sengaja mengenai tubuh saya saat merapihkan barisan pada perang Badar.”
Apa yang Rasul lakukan?
Beliau tidak membela diri.
Tidak menjelaskan.
Tidak berkata, “Itu tidak sengaja.”
Beliau justru membuka bajunya…
dan mempersilakan sahabat itu membalas.
Di titik itu, kita belajar—
bahwa memohon maaf bukan tentang siapa yang benar, tapi siapa yang ingin hatinya bersih.
Karena di akhirat nanti,
bukan hanya dosa kepada Allah yang dihisab…
tapi juga hak manusia yang belum kita selesaikan.
Dan jika belum selesai di dunia…
maka akan dibayar dengan pahala kita, bahkan dosa orang lain bisa dipindahkan kepada kita.
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟» قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: «إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ» رواه مسلم : 59 (2581).
Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, : “Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang bangkrut) itu?” Para sahabat menjawab, ”Muflis (orang yang bangkrut) itu adalah yang tidak mempunyai dirham (uang) maupun harta benda.” Tetapi Nabi SAW bersabda : “Orang yang bangkrut dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, shaum dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci, menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka” (HR. Muslim : no. 59 [2581]).
Maka Idul Fitri… adalah momen kita menuntaskan.
Bukan sekadar berkata “mohon maaf lahir dan batin”…
tapi benar-benar datang, merendah, dan berkata:
"Maafkan saya… meski tanpa sengaja, saya pernah melukai.”
Komentar
Posting Komentar